KEHIDUPAN BERAGAMA DI NTT: Kerukunan Terpelihara Baik

February 17, 2011 – 1:26 am
Di daerah yang mayoritas penduduknya beragama Katolik dan Protestan, sebuah masjid berdiri kokoh di Jalan Kelimutu, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (15/2). Di NTT terjalin kerukunan yang baik antarumat beragama. Umat dapat beribadah menurut agama dan keyakinannya masing-masing dengan leluasa tanpa gangguan pihak mana pun.

Oleh Samuel Oktora

Apakah kedamaian dan keamanan sekarang begitu mahal di negeri ini? Masih adakah kerukunan antarumat beragama yang terjalin mesra di republik ini? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu memang mengusik kita setelah Indonesia dikejutkan dengan beberapa konflik horizontal di awal Februari 2011.

Kasus yang paling mencolok adalah kekerasan massa di Cikeusik, Pandeglang, Banten, dan Temanggung, Jawa Tengah. Apakah wajah bangsa ini, yang tahun ini genap berusia 66 tahun, penuh kekerasan, mudah tersulut dengan kerusuhan berbau SARA? Padahal, di Nusa Tenggara Timur (NTT), suatu wilayah yang dipisahkan dengan lautan luas, kerukunan antarumat beragama masih terpelihara baik.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) NTT tahun 2009, dari total penduduk NTT sebanyak 4.619.655 jiwa, mayoritas beragama Kristen Katolik dan Kristen Protestan mencapai 89,96 persen dan yang 10,04 persen beragama Islam, Hindu, Buddha, dan kepercayaan lainnya.

Sampai saat ini di antara umat beragama tersebut dapat hidup rukun dan berdampingan dengan dilandasi sikap saling menghargai dan menghormati.

Di Kabupaten Ende, Pulau Flores, di pesisir selatan berdiri permukiman warga yang mayoritas beragama Islam. Mereka antara lain berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), Makassar, Bone, Selayar, Jeneponto (Sulawesi Selatan), ada juga dari Jawa, dan sebagian dari Bali, penganut agama Hindu.

Di Pulau Ende, yang berpenduduk sekitar 8.000 jiwa, seluruhnya beragama Islam, tetapi mereka dapat hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Ada warga dari Bajawa, Kabupaten Ngada, Flores, yang Nasrani, yang menggarap kebun di Pulau Ende kemudian menikah dengan penduduk setempat, lalu memeluk agama Islam. Namun, mereka dapat hidup rukun dan tetap terjalin tali silaturahim yang erat dengan keluarga besar di Bajawa.

”Keluarga saya Muslim, tapi saudara saya banyak yang beragama Katolik. Saya juga memiliki nama marga Parera dari Sikka yang menganut Katolik. Kerukunan antarumat beragama di Ende sangat bagus. Tidak pernah terjadi kerusuhan karena SARA, atau selebaran yang menghasut. Kalaupun ada amuk massa, biasanya karena kasus pencemaran hosti, itu pun terjadi di lingkungan gereja Katolik, dan dampaknya tidak meluas,” kata Agil Parera Ambuwaru, mantan anggota DPRD Kabupaten Ende, Jumat (11/2) di Ende.

Agil mencontohkan, pada hari besar agama seperti Natal dan Idul Fitri, umat beragama, terutama dari kalangan muda saling membantu mengamankan jalannya perayaan. Di masyarakat juga biasa saling berkunjung untuk mengucapkan selamat hari raya.

Pemerintahan

Kerukunan itu juga terlihat dalam berbagai posisi kekuasaan. Pada masa kepemimpinan Bupati Ende Paulinus Domi (1999-2009), sekretaris daerah (sekda) Kabupaten Ende dijabat Iskandar Mohamad Mberu yang beragama Islam.

Kerukunan itu terpelihara di masa Gubernur NTT Piet A Tallo. ”Piet Tallo memang merupakan sosok pemimpin yang mempunyai toleransi tinggi. Hal ini juga menunjukkan, dalam urusan politik pemerintahan, masyarakat Ende mempunyai toleransi tinggi, tak mempersoalkan agama seseorang,” kata Agil.

Wakil Gubernur NTT Esthon Foenay, pada pertengahan Desember 2010, di Kupang dengan lugas mengajak seluruh masyarakat Indonesia dapat datang ke NTT untuk belajar soal kerukunan beragama yang terbangun kuat sejak ratusan tahun silam. Esthon mengemukakan hal itu pada acara pembukaan Rapat Koordinasi Antar Daerah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Wilayah III (Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT) serta Musyawarah Daerah VII MUI NTT.

Esthon menggambarkan, di Kabupaten Alor yang berpenduduk 181.913 jiwa, yang mayoritas sekitar 80 persen beragama Kristen Protestan, tapi Raja Alor beragama Islam. Hal serupa terjadi di Ende, dengan penduduk 238.195 jiwa, Raja Ende adalah orang Islam.

Di pusat perkampungan Oepura Kupang, yang mayoritas penduduknya dari kalangan Kristen Protestan, terdapat satu kampung Muslim. Bahkan, ujar Esthon, Gubernur NTT Frans Lebu Raya yang beragama Katolik, dari saudara ayahnya ada yang bernama H Muchtar Lebu Raya.

”Inilah gambaran NTT, dan kita bangga dapat menjadi contoh bagi daerah lain tentang kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang saling menghargai perbedaan,” kata Esthon.

Uskup Agung Ende Mgr Vincentius Sensi Potokota Pr mengatakan, kerukunan antarumat beragama di Ende maupun NTT masih terjaga baik sampai saat ini. ”Kita bisa melihat masyarakat di sini (NTT) tidak mudah terpancing atau bereaksi sebagai ungkapan mungkin balas dendam atau protes atas kejadian seperti di Temanggung. Masyarakat di Flores atau NTT umumnya cukup matang dan dewasa dalam menyikapi pemberitaan media. Ini salah satu gambaran nuansa toleransi yang masih terpelihara baik,” katanya.

Sejarah mencatat, Bung Karno, presiden pertama, ketika dibuang ke Ende tahun 1934-1938 tinggal di rumah pengasingan, Jalan Perwira, yang merupakan permukiman etnik Ende, yang mayoritas beragama Islam. Namun, Bung Karno justru banyak bergaul dengan masyarakat kecil juga bersahabat dengan para pastor dari lingkungan tarekat Katolik Serikat Sabda Allah (SVD).

Conton lain, Bupati Ende Hassan Aroeboesman (1967-1973), yang namanya kemudian dijadikan nama bandar udara di Ende, juga beragama Islam. ”Ini menunjukkan bahwa masyarakat di Ende tak terpengaruh dengan konsep pemikiran mayoritas-minoritas, melainkan semuanya hidup dalam semangat persaudaraan tanpa membeda-bedakan,” kata Uskup Agung Ende itu.

Menurut Mgr Sensi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah meresmikan gong perdamaian Nusantara di Taman Nostalgia Kupang, Selasa (8/2) lalu. NTT lebih dikenal sebagai wilayah yang kering dan gersang, berhawa panas, rawan bencana, daerah tertinggal, tapi masih mempunyai warna kesejukan, yakni betapa indahnya kerukunan masyarakatnya.

Sumber

Persaudaraan tanpa membeda-bedakan :iloveindonesia

KEHIDUPAN BERAGAMA DI NTT: Kerukunan Terpelihara Baik

Info yg dicari : berita kehidupan beragama, contoh hidup beragama yg baik, cerita seks abg ende flores NTT, analisis kehidupan beragama, analisis kehidupan beragama di kota kupang, analisis kehidupan beragama di kupang, hidup berdampingan dengan semua warga tanpa membeda-bedakan SARA adalah sikap positif di lingkungan, mayoritas agama di NTT,

Post a Comment