Sr Zita CB, Biarawati yang Keluar Masuk Lokalisasi

February 5, 2012 – 2:26 pm

Ia bergaul akrab dengan para PSK, waria, kaum lesbian dan gay yang berada di lokalisasi dan tempat hiburan malam untuk memberikan edukasi tentang bahaya HIV-AIDS.

Tak banyak orang mau ditugaskan ke daerah terpencil seperti Papua. Namun justru itulah yang dipilih oleh Sr Zita CB, seorang biarawati yang bertugas dibawah naungan Keuskupan Manokwari, Sorong, Papua.

Ia mengaku, sebenarnya sejak tahun 1974 keinginan itu sudah terpatri di dalam hatinya. Bahkan Suster Zita, demikian biasanya ia disapa, pernah menawarkan diri untuk ditugaskan di provinsi yang terkenal dengan Burung Cendrawasihnya itu.

Sayangnya kala itu, ia belum diberi kesempatan untuk bertugas di Papua. Barulah pada tahun 2000, setelah bertugas melakukan pendampingan para pengungsi di Dili, pasca Timor Leste merdeka, ia diminta untuk pindah tugas ke Papua.

“Betapa bahagia saya waktu itu. Sama sekali tak menyangka, mimpi yang sudah sekian lama terpendam jadi kenyataan. Semua memang ada saatnya,” ucapnya bijak saat ditemui beritasatu.com di sela-sela acara MDG Awards 2011, di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (31/1).

Tak lama berselang, Suster Zita langsung terbang ke Papua dengan wilayah tugasnya di daerah Sorong. Semenjak tinggal di sana ia baru mengetahui, bahwa kasus HIV-AIDS di Sorong sangat tinggi dan memrihatinkan.

Banyak penderita yang diperlakukan sangat diskriminatif tak hanya oleh masyarakat, tapi juga tak jarang oleh keluarganya sendiri.

Kondisi ini tentu saja berdampak buruk bagi psikologisnya yang membuat kondisi kesehatan penderitanya semakin memburuk sehingga mempercepat kematiannya.

Melihat fakta menyedihkan ini, Suster Zita tergerak untuk melakukan program edukasi dan penyuluhan kesehatan seputar HIV-AIDS.

Ia mengawali programnya itu dengan merekrut empat siswa sekolah menengah atas (SMA). Mereka dididik dan diberi pengetahuan yang memadai tentang HIV-AIDS.

Dengan bekal tersebut, Suster Zita dan keempat siswa yang menjadi kader kesehatannya itu mulai melakukan edukasi dan penyuluhan di balai pengobatan yang didirikannya dengan bantuan dana dari beberapa badan atau organisasi internasional.

“Saya sengaja melibatkan anak muda yang mempunyai peran penting untuk membantu menekan angka kematian akibat HIV-AIDS, dimana kaum muda merupakan golongan yang berisiko terkena penyakit tersebut,” imbuhnya.

Tak hanya di balai pengobatan program edukasi dan penyuluhan itu dilakukan, Suster Zita dan tim pun menjangkau daerah lokalisasi dan tempat hiburan malam lainnya seperti bar, klub malam, cafe, dan panti pijat plus plus.

Awalnya Sering Ditolak
Kali pertama mendatangi tempat tersebut, mereka kerap menghadapi banyak penolakan, bahkan tak jarang diusir atau pintunya dikunci.

“Namun kami tidak kapok untuk mendatanginya lagi dengan penuh kesabaran dan kerendahan hati. Saya sering mengetuk pintu bar agar mereka mau menerima kehadiran kami,” ungkapnya mengenang pengalaman berkesan itu.

Syukurlah kesabaran dan kegigihan Suster Zita membuahkan hasil. Setelah melakukan pendekatan secara terus-menerus, mereka yang awalnya tak bersahabat akhirnya mau juga membuka diri.

Sejak itulah Suster Zita dan kader kesehatannya dapat melakukan edukasi dan penyuluhan di tempat hiburan malam itu.

“Pelan-pelan saya sampaikan maksud dan tujuan dari program edukasi tersebut. Saya bilang kepada mereka, hanya ingin memberikan penyuluhan tentang kesehatan yang sangat bermanfaat bagi mereka agar terhindar dari risiko mematikan. Jadi bukan melarang profesi yang mereka dijalani,” ceritanya panjang lebar.

Tanpa rasa takut sedikit pun Suster Zita mendekati para germo agar mereka membolehkan para PSK-nya mengikuti program edukasi kesehatan yang dilakukannya.

“Saya bilang ke Mami (sebutan untuk germo –red), kedatangan kami ke sini sebenarnya justru demi menjaga kesehatan ‘anak-anak asuhnya’ dan syukurlah mereka mau diajak kerjasama. Begitu berhasil mendekati germonya, barulah saya bisa mendekati para PSK-nya,” tambahnya.

Pendekatan inilah yang membuatnya diterima di lokalisasi dan tempat-tempat hiburan malam.

Alhasil ia dan timnya bisa secara rutin menjalankan program tersebut. Bahkan pernah beberapa kali program edukasi dan penyuluhan HIV-AIDS yang dilakukannya di lokalisasi dihadiri oleh sekitar 400-an PSK.

Menebus Para PSK
Tak disangka mereka, lanjut perempuan kelahiran Prembun, Kebumen, Jawa Tengah ini, begitu antusias untuk mengetahui tentang informasi yang benar seputar apa itu HIV-AIDS dan cara penanganannya.

“Para PSK itu pelan-pelan saya ajak bicara dari hati ke hati mengapa mereka memilih profesi itu untuk mencari nafkah. Padahal di usianya yang masih muda, ada banyak profesi lain yang lebih aman dan sehat dapat memenuhi kebutuhan hidupnya,” jelasnya.

Tak disangka beberapa PSK, kata Suster Zita, ada yang mau meninggalkan profesinya tersebut dengan kesadarannya sendiri.

Bahkan beberapa kali ia pernah juga membantu menebus para PSK dengan sejumlah uang agar mereka bisa keluar dari lokalisasi.

“Saya bantu carikan pekerjaan lain dan syukurlah semua berjalan lancar, karena yang terpenting bagi germonya adalah uang tebusan yang diterimanya sebagai syarat untuk melepas ‘anak asuhnya’ itu."

Selain di lokalisasi dan tempta hiburan malam, Suster Zita dan kader kesehatannya juga melakukan penyuluhan di sekolah-sekolah, pabrik dan perusahaan.

Ia juga mengajak para kadernya untuk merekrut kader kesehatan baru untuk membantu program kesehatan yang dilakukannya.

“Selain kader untuk HIV-AIDS, kami juga membentuk kader posyandu dan kesehatan sebagai perpanjang tangan dari program kami. Anak putus sekolah pun kami berdayakan melalui pemberian keterampilan yang membuatnya bisa mandiri secara finansial,” tambahnya.

Berkat perjuangan mulianya itu, kini para PSK dan orang-orang yang berisiko terkena HIV-AIDS sudah tidak takut lagi untuk memeriksakan kesehatannya tanpa diliputi rasa minder.

Begitu pula perlakuan masyarakat sekitar dan keluarga yang secara perlahan mulai mau menerima kehadirannya.

Semoga saja dengan perjuangan keras tanpa lelah itu, kata Suster Zita, dapat mengubah cara pandang atau pola pikir masyarakat, sehingga penderita HIV-AIDS tak lagi dikucilkan.

Selain itu dengan pengetahuan dan pemahaman yang benar mengenai penyakit tersebut, diharapkan dapat membantu menekan jumlah kasus HIV-AIDS di Sorong, sekaligus menekan angka kematiannya.

Sebuah pengabdian mulia terhadap sesama ini, patut diteladani dan diacungi jempol.

Penulis: Ririn Indriani

http://www.beritasatu.com/features/2…okalisasi.html

wihh ini orang nekad bener :bingung

Sr Zita CB, Biarawati yang Keluar Masuk Lokalisasi

Info yg dicari : Cerita sex Biarawati, cerita ngentot biarawati, Ngentot biarawati, cerita seks biarawati, biarawati ngentot, cerita dewasa biarawati, cerita ngentot di lokalisasi, cerita ngentot cewek papua, cerita sex dengan biarawati, cerita sex suster,

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Post a Comment