Perpecahan di Partai Demokrat

May 23, 2011 – 8:26 pm
Suap Wisma Atlet : Anas di Ujung Tanduk

Jakarta- Perkembangan kasus suap wisma atlet Jakabaring makin menyudutkan posisi Ketua Umum Partai Demokrat (PD), Anas Urbaningrum. Prediksi beberapa pihak, Anas akan dijadikan ‘tumbal’ dan kasus ini merupakan buntut perpecahan saat kongres pemilihan ketua umum di Bandung tahun lalu mendekati kebenaran.

Buktinya, Andi Malarangeng yang secara struktural sangat dekat dengan suap karena menduduki posisi sebagai Menteri Pemuda Olahraga (Menpora) malah adem ayem.

Sementara munculnya ‘artis’ baru, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD diduga hanya dimanfaatkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono(SBY)–Ketua Dewan Pembina PD– untuk mendepak Nazaruddin dari partai berlambang intan itu dan melakukan serangan ke kubu Anas

"Saya pikir sejak saat itu banyak agenda politik SBY yang mulai macet, khususnya di lingkungan Partai Demokrat. Munculnya kasus Nazaruddin ini membuka ruang bagi perseteruan itu untuk dimulai kembali bahkan lebih panas dan meluas. Panas karena mulai terbuka kepada umum dan meluas karena mulai melibatkan pihak lain untuk saling memojokan kubu masing-masing terutama SBY dengan mempergunakan Ketua MK Mahfud MD," ujar Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia, Ray Rangkuti, Senin (23/5).

Sekadar diketahui, meski tidak mau mengaitkan Nazaruddin dengan Anas, Mahfud mengatakan Anas pernah makan bersama dengan Nazaruddin dan Sekjen MK, Janedjri M Ghaffar. Beberapa waktu kemudian, Janedjri melapor yang diberi ‘uang persahabatan’ Nazaruddin sekitar Rp 840 juta.

Menurutnya, Nazaruddin yang juga Bendahara Umum PD an lebih condong merapat ke kubu Anas Urbaningrum pascakongres di Bandung jelas tidak diinginkan keberadaannya oleh SBY setelah kalah di ajang pemilihan ketua umum. Menurut, secara kasat mata memang ada dua kelompok besar dalam perseteruan kasus Nazarudin ini. Kubu itu antara kubu SBY yang juga disebut sebagai kubu Andi Malarangeng dengan Anas Urbaningrum. Hubungan antara dua kubu ini telah mulai sejak kongres terakhir yang menetapkan Anas sebagai ketua umum dan saat itu kubu SBY memang kalah tanpa terduga.

Hal tersebut, lanjut Ray, juga menunjukkan betapa blok politik SBY di lingkungan orang-orang PD makin melemah hingga membutuhkan kesertaan pihak lain dalam kasus ini. Padahal seperti diakui sendiri oleh Mahfud MD, temuan itu telah disampaikan pada bulan November 2010 yang lalu. "Kita butuh waktu untuk melihat kelanjutan drama ini. Sekalipun saya berkeyakinan bahwa SBY hanya menjadikan kasus ini untuk memukul kubu Anas Urbaningrum bukan untuk menyelesaikannya," jelas Ray.

Sementara itu, ketika ditanyakan, apakah ada tawar menawar antara SBY dengan Mahfud MD sehingga mantan Menteri Pertahanan era Presiden Gus Dur tersebut mengadu persoalan Nazaruddin, Ray memandang hal itu tidak ada sama sekali. Justru Ray melihat Mahfud MD pada awalnya sama sekali tidak tahu menahu akan diajak bicara pula soal kasus Nazaruddin.

"Saya melihat hal ini efek dari ketidaktahuan pak Mahfud MD saja. Awalnya diundang oleh presiden ke istana negara sebagai pejabat negara beliau merasa bahwa tak elok untuk tidak menghadiri undangan pak SBY. Tak dinanya bahwa forum itu salah satunya mendiskusikan soal Nazaruddin dan kemudian konferensi pers soal itu," tutupnya.

Berbagai kasus yang disebut-sebut melibatkan Nazaruddin, memang menjadi beban berat Anas Urbaningrum. Kasus Nazaruddin mencoreng dan menyandera Anas dalam melangkah ke depan. Sejauh ini sederet isu menyasar Nazaruddin mulai suap Sekretaris Kementrian Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora), tuduhan pemberian uang ke Sekjen Mahkamah Konstitusi (MK) sebesar 120 ribu dollar Singapura (Rp 840 juta) pada 2010 hingga tudingan Nazaruddin pernah ditahan Polda Metro Jaya karena diduga terlibat dalam pemalsuan dokumen perusahaan miliknya, PT Anugerah Nusantara.

Yang mengejutkan publik, Nazaruddin yang menjadi sorotan pers dan publik itu terkesan masih mendapat pembelaan dari politisi Demokrat di DPR seperti Benny K Harman, dan Ruhut Sitompul. “Publik curiga mereka melindungi Nazaruddin,”‘ kata pengamat hukum Suparwan Zahari Gabat, lulusan FH- UGM dan pasca sarjana UI.

Sayangnya, dalam menuntaskan kasus Nazaruddin ini, sikap Anas sebagai Ketua Umum DPP Partai Demokrat tidak tegas dan malah menyerahkan persoalan itu ke atas (ke SBY) selaku Ketua Dewan Pembina DPP Partai Demokrat. Padahal untuk urusan yang berpotensi mencoreng partai biru itu, mustinya Anas yang harus memutuskan, tak perlu SBY.

“Ini persoalan yang mencoreng Demokrat, DPR dan SBY serta mencoreng Anas sendiri sebagai Ketum DPP Partai Demokrat. Mestinya Anas bertindak tegas menonaktifkan Nazaruddin agar kasus itu tidak menyandera Anas sebagai pemimpin muda yang masih diharapkan masyarakat,” tegas Darmawan Sinayangsah, pengamat politik lulusan Fisip UI yang kini Direktur Freedom Foundation.

Anas Urbaningrum, katanya, bisa mencontoh Khalifah Umar Bin Khatab yang membersihkan korupsi dan sejenisnya sekalipun melibatkan sahabat atau anggota keluarganya. Berbagai kalangan menduga memanasnya kasus suap pembangunan Wisma Atlet Sea Games Palembang ini akibat ketidaktegasan Anas yang dikenal sebagai patronase Nazaruddin.

“Berbagai sumber menyebut Anas sangat dekat dengan Nazaruddin. Bahkan Nazaruddin disebut sebagai tulang punggung ( backbone) kiprah politik Anas. Isu ini jelas mencoreng dan menyandera Anas dalam melangkah ke depan. Karena itu, Anas harus tegas menonaktifkan Nazaruddin. Jangan sampai terkesan Anas menjadi boneka atau disetir Nazaruddin,” tambah Mohamad Nabil, peneliti politik Centre for the Study of Religion and Culture UIN Jakarta.

Dibandingkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang relatif cepat dan responsif dalam menyelesaikan laporan Yusuf Supendi mengenai adanya korupsi di kalangan elite partainya, nampaknya Demokrat kedodoran dan kisruh dalam menangani kasus suap Sesmenpora yang diduga melibatkan Nazaruddin.

Sebagaimana diketahui, pada 21 April lalu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Wafid Muharam karena tuduhan suap. Ikut ditanggkap Direktur PT Anak Negeri Mindo Rosalina Manullang dan Manajer PT Duta Graha Indah (DGI) Mohammad El Idris. Nazaruddin disebut-sebut terlibat dalam kasus itu.

Jika Anas terkesan melindungi dan mempertahankan Nazaruddin, publik akan menaruh prasangka dan curiga bahwa ada pat gulipat dan kong kalikong di antara mereka. Masa depan kepemimpinan Anas Urbaningrum bisa hancur karenanya. “Publik akan melihatnya seperti itu,” ujar Mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, Amien Rais.

Anas Urbaningrum sendiri tak mau banyak komentar. Dia hanya mengaku kecewa dikait-kaitkan dengan dugaan pemberian ‘uang persahabatan’ dari Nazaruddin kepada Sekjen Mahkamah Konstitusi (MK), Janedjri M Ghaffar. "Terus terang saya kurang happy kalau hal yang tidak terkait lantas dikait-kaitkan. Publik bisa salah mencerna dan saya yang bisa dirugikan," sesal Anas melalui pesan singkatnya Minggu (22/5) malam.tmp,viv,dtc

Link : Surabaya Post

================================================== ======
Kasihan MD di jadikan alat ama SBY sebagai penabuh gendrang perang antar 2 kubu di partai Demokrat

Perpecahan di Partai Demokrat

Info yg dicari : berita terbaru anas urbaningrum, KASUS ANAS URBANINGRUM TERBARU, berita terkini partai demokrat, Berita Demokrat, perkembangan kasus mesuji, perkembangan kasus anas, anas urbaningrum terbaru, kasus anas urbaningrum, perkembangan kasus anas urbaningrum, kabar terbaru kasus anas urbaningrum,
  1. One Response to “Perpecahan di Partai Demokrat”

  2. susah sekali bagi negeri indonesia ini mencari pemimpin yang betul betul untuk mensejaterakan rakyat,semua nya kalu jadi pemimpin.sudah lupa diri. siapapun manusianya.kecuali cari pemimpin dari luar negeri sebagai pemimpin negara ini.tanpa membeda bedakan siapa orang ini.
    masalah agama tidk menjadi patokan,yg penting niat pemimpin nya utk rakyat….dsb
    sebagai contoh saya,anak 2 saya,susah cari kerja..semua mau duit…..siapa mau tolong,,,,kecuali kita berpintak ke Allah ….dan berusaha…bagaimana cari makan yg halal….dsb

    By Muhamad nurr.. on Jul 22, 2013

Post a Comment