‘JANCOK, CUKIMAI dan SIALAN’ Potensi Tradisi Lisan yang Harus Dilestarikan

September 17, 2011 – 7:26 am
Surabaya (beritajatim.com) – Kata-kata pisuhan yang sering dianggap tabu dan tidak sopan itu ternyata merupakan potensi tradisi lisan yang belum digali secara maksimal. Orang Surabaya suka menyebut “Jancuk”, tapi apa maknanya? Bagaimana asal mulanya?

Mengapa menggunakan sebutan itu? Di berbagai daerah memiliki pilihan kata pisuhan yang unik dan memiliki alasan kultural tersendiri, seperti *Sialan*atau *Cukimai *dan sebagainya. Dengan mengupas kata-kata “Jancuk” misalnya, dapatmenjadi bekal untuk menjadi sarjana (S-1), Strata 2 dan bahkan Strata 3.

Dalam diskusi mengenai Potensi Seni Tradisi Lisan Jawa Timur yang berlangsung di Gedung Cak Durasim, Taman BudayaJawa Timur, Selasa (13/9) dua orang guru besar, Prof. Ayu Sutarto dari Jember dan Prof. Henricus Supriyanto dari Malang, mengemukakan hal itu. Dalam sesi berikutnya, tampil Dr. Sutamat Arybowo, wakil ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Pusat.

Yang disebut tradisi lisan itu meliputi: Cerita rakyat, baik yang berbentuk mite, legenda, maupun dongeng. *Pituduh* dan *wewaler* “ajaran dan pantangan” yang digunakan sebagai rujukan dalam kondisi sosial.

Juga ternasuk teka-teki, berbagai jenis mantra, lagu dolanan, puisi rakyat, baik yang berbentuk parikan maupun *wangsalan*, termasuk juga pisuhan atau “kata-kata makian”.

Tradisi yang sebagian berupa lisan juga dapat ditemukan dalam kepercayaan dan religi, permainan tradisional, teater tradisional, tari tradisional, adat-istiadat, upacara tradisional dan juga pesta rakyat.

Menurut Ayu Sutarto, masyarakat Jawa Timur yang terdiri dari berbagai kelompok etnik (Jawa, Madura, Tengger, Samin, Using) kaya akan tradisi, baik tradisi lisan, sebagian lisan, maupun bukan lisan. Tradisi tersebut merupakan kekayaan budaya yang dapat dimanfaatkan sebagai modal untuk membentuk peradaban dalam berbagai aspek kehidupan. Banyak bentuk tradisi yang belum digali dan dimanfaatkan, baik oleh masyarakat pemiliknya maupun negara sehingga menjadi kekayaan budaya yang mubazir.

Setiap tradisi memiliki pewaris, baik pewaris aktif maupun pewaris pasif. Sementara jumlah pewaris ini makin lama makin menyusut karena proses pewarisannya tidak berjalan akibat tekanan perubahan dan tekanan ekonomi.

Tradisi tersebut sangat penting karena berkaitan dengan pengetahuan setempat yang terkait dengan hubungan manusia dengan kekuatan gaib, hubungan manusia dengan lingkungannya, dan hubungan antarmanusia. Tradisi itu mencerminkan kekuatan pewarisnya dalam mengembangkan daya budi dan budi daya. “Kita punya banyak kekayaan budidaya tapi tidak punya daya budi untuk mengelolanya, yang salah siapa?” tanya Ayu Sutarto, yang juga menjadi ketua ATL Jawa Timur.[ted]

http://www.beritajatim.com/detailnew…radisi_Lisan__

‘JANCOK, CUKIMAI dan SIALAN’ Potensi Tradisi Lisan yang Harus Dilestarikan

Info yg dicari : cerita sex tradisi, cerita seks tradisi, ceritasextradisi, cerita mesum tradisi,

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Post a Comment