Ancaman Gempa Bandung, Sesar Lembang Dipantau

March 26, 2011 – 5:26 am
Quote:

ITB bekerja sama dengan JICA memantau terus pergerakan Sesar Lembang dengan GPS.

VIVAnews – Untuk mengantisipasi potensi gempa besar yang mengancam Kota Bandung, pihak ITB bertekad terus memantau pergerakan Sesar Lembang.

Pada acara Kuliah Umum Sesar Lembang dan Hubungannya Dengan Masyarakat Bandung, di Institut Teknologi Bandung, kemarin, pakar Geodesi ITB, Irwan Meilano menegaskan bahwa ITB bakal terus memantau pergerakan sesar Lembang menggunakan Global Positioning System (GPS), bekerjasama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA).

Sebenarnya, menurut Irwan, ITB memang telah melakukan pengamatan Global Positioning System (GPS) di sekitar sesar Lembang, sejak 2006 lalu. Dari pengamatan itu, kecepatan laju geser dari sesar Lembang diketahui sekitar 2 milimeter per tahun.

Selain itu ITB juga akan membuat pendetailan pergerakan sesar Lembang agar dapat membuat skenario darurat jika terjadi bencana alam. Pendetailan tersebut, kata Iwan, harus didukung oleh para pemangku kepentingan (stakeholder) terkait, seperti pemerintah daerah, LSM dan organisasi lainnya.

Pakar gempa senior dari LIPI, Danny Hilman, setuju atas rencana pemetaan patahan secara detail. Menurut Danny ada dua skenario bencana, terkait patahan Lembang. Pertama, getaran akibat pergerakan berada di bawah tanah. Ini memberikan pengaruh luas, namun tidak terlalu berbahaya. Namun, ini sangat bergantung pada tingkat kedalaman getaran.

Kedua, patahan menyebabkan gempa di permukaan, yang dalam hal ini bisa merusak rumah. Karena gerakan patahan ini sukar diantisipasi, maka Danny mengusulkan agar sepanjang jalur patahan dihindari untuk didirikan rumah hunian, dan tanah di jalur patahan itu dibebaskan oleh negara.

Beberapa bangunan yang tepat berada di atas sesar Lembang antara lain adalah Observatorium Bosscha, Sesko AU, Sespim Polri, Detasemen Kavaleri TNI-AD, dan Restoran The Peak.

Daerah lain yang juga dilintasi Sesar Lembang adalah Gunung Palasari, Batunyusun, Gunung Batu & Gunung Lembang, Cihideung, dan Jambudipa bagian barat. Wilayah-wilayah tersebut merupakan wilayah pemukiman yang padat dan dapat berpotensi membahayakan.

“Tapi tanah di sekitarnya bisa dijadikan taman yang tidak berbahaya seperti kasus patahan San Andreas di California, AS,” Danny menjelaskan. Selanjutnya, kata Danny, gempa bumi memang sulit diprediksi.

Namun demikian, kawasan-kawasan rawan bencana gempa bumi telah diketahui dengan baik. Upaya selanjutnya, adalah bagaimana mempersiapkan diri jika gempa tersebut benar-benar datang.

Pakar Geologi ITB Budi Brahmantyo menambahkan, pemerintah harus melakukan sosialisasi dan melakukan berbagai simulasi untuk mengantisipasi besarnya korban yang jatuh. Karena biasanya, kata Budi, masyarakat Indonesia mudah lupa terhadap suatu peristiwa.

Sumber 1


Quote:

Gempa Bandung Bisa ‘Seganas’ Gempa Yogyakarta

Sejarah mencatat pernah terjadi gempa besar di daerah Padalarang pada 1910.

VIVAnews – Kota Bandung yang selama ini menjadi magnet bagi wisawatan lokal maupun internasional, ternyata menyimpan ‘bom waktu’ gempa yang cukup besar. Potensi bencana itu tak lepas dari keberadaan Sesar Lembang yang membujur sepanjang 22 km.

Peneliti senior Geoteknologi LIPI Danny Hilman mengatakan, selama ini banyak yang mengira bahwa Sesar Lembang tidak aktif. Padahal sebaliknya, sesar ini adalah salah satu sesar teraktif di Pulau Jawa, yang berhubungan dengan aktivitas gunung Sunda purba

Danny menjelaskan, penelitian LIPI menemukan endapan yang diperkirakan terbentuk akibat aktivitas sesar Lembang, yang diperkirakan berumur ribuan tahun. Data ini menunjukkan bahwa sesar Lembang tergolong sesar aktif, sekalipun belum ada gempa besar selama sejarah manusia modern.

Namun, menurut pakar geologi ITB Budi Brahmantyo, pada 1910 pernah terjadi gempa bumi besar di daerah Padalarang. Gempa tersebut termasuk dalam pergerakan patahan Cimandiri yang memang aktif. Dan seperti dikatakan oleh pakar geologi Agus Hardoyo, Sesar Lembang memang juga terhubung dengan Sesar Cimandiri.

Selanjutnya, Danny mengingatkan agar Indonesia menarik pelajaran berharga dari Gempa Kobe pada 1995 dan Gempa Yogyakarta pada 2006 lalu. Di Kobe, Jepang, yang sebelumnya tak pernah mengalami gempa selama 2000 tahun, ternyata dilanda gempa bumi dahsyat yang menghancurkan.

Hal serupa juga terjadi saat Gempa Yogyakarta pada 2006, yang diakibatkan oleh pergerakan Sesar Opak di Yogyakarta. “Ancaman gempa di Bandung bisa seperti yang terjadi di Yogyakarta," kata Danny, pada Kuliah Umum Sesar Lembang dan Hubungannya Dengan Masyarakat Bandung di Institut Teknologi Bandung, Jumat, kemarin.

Padahal, sebelumnya Yogya juga pernah mengalami gempa pada 1957. Sementara, selama ini tidak pernah ada catatan bahwa Sesar Lembang pernah mengalami gempa. "Tapi, faktanya pernah terjadi gempa di Padalarang pada 1910, yang terjadi di patahan Cimandiri. Hal ini harus diteliti lebih lanjut menggunakan data yang benar,” ujar Danny.

Untuk membuktikan keaktifan sesar Lembang, teman sejawat Danny, peneliti Geoteknologi LIPI Eko Yulianto, mengatakan bahwa mereka telah melakukan penggalian di empat titik di atas sesar Lembang.

Tiga titik digali di daerah Cihideung, dan satu titik di Sukamulya. Pada penggalian tersebut, Eko menemukan berbagai macam pepohonan dan biji-bijian di kedalaman 1,5 meter. Selain itu, ditemukan pula tengkorak monyet. Ini mengindikasikan bahwa terdapat hutan yang lebat di sesar Lembang.

Penggalian di Cihideung juga menunjukkan, bahwa setidaknya telah terjadi dua kali gempa bumi besar terjadi di Bandung. Pasalnya, pada lapisan tanah tersebut, ditemukan kontur tanah – atau dalam istilah geologi struktur beban – yang berkelok-kelok.

Bentuk berkelok-kelok memanjang itu menandakan bahwa gempa bumi besar pernah terjadi. Struktur beban terbentuk akibat guncangan atau getaran tanah menekan lapisan tanah dibawahnya sehingga membentuk batas-batas yang berkelok-kelok.

Eko mengaku belum bisa memastikan kapan struktur beban tersebut terjadi. Namun Eko memperkirakan, struktur beban terjadi antara 400-600 tahun yang lalu, di mana diperkirakan terjadi bersamaan dengan gempa bumi besar terakhir di daerah itu.

Ia juga belum bisa memastikan berapa kekuatan gempa saat itu. "Namun jika diukur dari slipnya sebesar 2 meter vertikal, maka diperkirakan gempanya berkekuatan antara 6,5 -7,0 Skala Richter,” Eko menjelaskan.

Sementara itu pakar Geodesi ITB, Irwan Meilano mengatakan, walau gempa di Pulau Jawa tidak separah dibandingkan di Sumatera, namun tetap membahayakan. Menurut Irwan, sejak 2006 lalu, ITB telah melakukan pengamatan Global Positioning System (GPS) di sekitar sesar Lembang.

Dari pengamatan itu, kecepatan laju geser dari Sesar Lembang diketahui sekitar 2 milimeter per tahun. Ini memang lebih lambat dibandingkan pergerakan sesar di Sumatera yang berkisar antara 100-130 milimeter per tahun, namun tetap Sesar Lembang patut diwaspadai.

Pasalnya, dengan menggunakan data empiris, kata Irwan, suatu patahan yang telah terbentuk sepanjang lebih dari 20 kilometer, bisa memicu gempa sebesar 6,5-7,0 SR, yang merusak.

Sumber 2


Quote:

:exclamati Semoga warga dan Kaskuser Bandung dilindungi Tuhan YME :exclamati

Ancaman Gempa Bandung, Sesar Lembang Dipantau

Info yg dicari : sesar lembang, gempa bumi di bandung, gempa lembang, gempa bumi di bandung 2011, gempa bumi yang pernah terjadi di indonesia,

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

  1. One Response to “Ancaman Gempa Bandung, Sesar Lembang Dipantau”

  2. saya lagi gelisah, karena rumah retak2 semuanya, sekalipun hanya di bawah 1 mm, namun tanah di luar rumah juga retak2. semula anak saya yang memberitahukan bahwa dia melihat ada retakan di tanah yg seolah mengejar dia ketika dia bermain di luar rumah, kemudian dia masuk rumah, ternyata retakan2 yg dia lihat terus mengikuti di tembok rumah. kemudian dia menceritakan kepada saya, awalnya saya tidak begitu menanggapi, sampai saya diyakinkannya untuk melihat retakan2 di dinding rumah dan diluar rumah. Kemudian saya search di google, dan mendapatkan berita mengenai gempa mengancam bandung ini. Mohon ada sharenya…! terima kasih.
    Irwan Setyawan

    By irwan on Apr 2, 2011

Post a Comment